Prodi BK FKIP UNS Latih Guru BK Tangani Kekerasan Seksual di Sekolah dengan Pendekatan Konseling Postmodern

[fusion_slider margin_top=”” margin_right=”” margin_bottom=”” margin_left=”” alignment=”” slideshow_autoplay=”” slideshow_smooth_height=”” slideshow_speed=”” hover_type=”none” width=”” height=”” hide_on_mobile=”small-visibility,medium-visibility,large-visibility” class=”” id=””][fusion_slide type=”image” image_id=”3506″ link=”” lightbox=”no” linktarget=”_self”]http://bk.fkip.uns.ac.id/wp-content/uploads/1-1.png[/fusion_slide][fusion_slide type=”image” image_id=”3508″ link=”” lightbox=”no” linktarget=”_self”]http://bk.fkip.uns.ac.id/wp-content/uploads/2-4.png[/fusion_slide][fusion_slide type=”image” image_id=”3510″ link=”” lightbox=”no” linktarget=”_self”]http://bk.fkip.uns.ac.id/wp-content/uploads/3-3.png[/fusion_slide][/fusion_slider]

Sragen – Tim Research Group (RG) Applied Counseling for Mental Health dari Prodi Bimbingan dan Konseling FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar pelatihan khusus bagi guru Bimbingan dan Konseling dalam menangani kasus kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan sekolah. Kegiatan ini berlangsung pada Kamis (15/5/2025) di SMP Negeri 5 Sragen, bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.

Pelatihan ini dipimpin oleh Dr. Ribut Purwaningrum, M.Pd., dan melibatkan sejumlah dosen UNS lainnya, seperti Dr. Rian Rokhmad Hidayat, M.Pd., Ulya Makhmudah, M.Pd., Ma’rifatin Indah Kholili, M.Pd., Adi Dewantoro, M.Pd., Santy Andrianie, M.Pd., serta Arifah Wulandari, M.Pd. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan pendekatan konseling postmodern sebagai strategi solutif dalam menangani kekerasan seksual, sekaligus membekali guru BK agar lebih siap menghadapi kasus-kasus sensitif seperti ini.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sragen, Prihantomo, S.Pd., M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan pentingnya memperkuat peran guru BK.

“Guru BK adalah pilar penting dalam pendidikan karakter. Lewat pelatihan ini, kami berharap mereka bisa menerapkan pendekatan konseling yang relevan untuk menyelesaikan masalah kekerasan seksual yang kini makin kompleks,” ujarnya.

Dr. Ribut juga menjelaskan bahwa pelatihan ini lahir dari hasil identifikasi kebutuhan para guru BK di Sragen.

“Berdasarkan analisis kami bersama MGBK Sragen, banyak guru membutuhkan peningkatan keterampilan menangani kasus kekerasan seksual, terutama pada siswa SMP. Konseling postmodern kami tawarkan sebagai metode alternatif yang lebih sesuai bagi siswa Gen Z,” paparnya.

Narasumber lainnya, Dr. Rian Rokhmad Hidayat, M.Pd., menegaskan pentingnya peran guru BK dalam menciptakan sekolah yang aman.

“Kekerasan seksual bisa sangat membekas pada korban dan sering sulit terungkap karena tekanan dari pelaku. Guru BK harus hadir sebagai pendamping yang aman dan tegas dalam pencegahan maupun penanganannya,” tegas Dr. Rian.

Arie Ichwan Nurhidayat, S.Sos., M.Pd., guru BK yang juga menjadi narasumber, membagikan praktik baiknya dalam menangani kasus kekerasan seksual.

“Kekerasan seksual itu kompleks. Kolaborasi lintas pihak dan pembentukan TPPK di sekolah jadi kunci utama dalam pencegahannya,” jelas Arie.

Sementara itu, Arifah Wulandari, M.Pd., mengajak peserta untuk menganalisis video praktik konseling sebelum memaparkan materi konseling postmodern lebih mendalam.